TUGAS 7 MANAJEMEN
PRINSIP-PRINSIP
MANAJEMEN KELAS
A. Pengertian
Prinsip Manajemen Kelas
Untuk
mengetahui makna dari prinsip manajemen kelas ini, ada baiknya terlebih dahulu
kita membahas sekilas tentang pengertian dari prinsip dan manajemen kelas.
Prinsip menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah Asas, Dasar.
Manajemen
kelas terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kelas. Manajemen berasal dari
bahasa Inggris yaitu “Management” yang di Indonesiakan
menjadi “Manajemen“. Arti dari Manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan
penggunaaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau
sasaran yang diinginkan. Sedangkan untuk pengertian kelas, penyusun mengambil
pendapat dari Hadari Nawawi. Beliau menyatakan pengertian kelas dalam arti sempit
dan luas. Berikut pendapatnya:
1. Kelas
dalam arti sempit: ruangan yang dibatasi oleh empat dinding, tempat sejumlah
siswa berkumpul untuk mengikuti Proses Belajar Mengajar. Kelas dalam pengertian
tradisional ini, mengandung sifat statis karena sekedar menunjuk pengelompokan
siswa menurut tingkat perkembangannya, antara lain berdasarkan pada batas umur
kronologis masing-masing.
2. Kelas
dalam arti luas: suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat
sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisir menjadi unit kerja yang secara
dinamis menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai
suatu tujuan.
Jadi
dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud kelas adalah ruangan belajar yang
digunakan untuk belajar oleh sekelompok orang dalam waktu sama, tingkatan sama,
pelajaran yang sama dan dari guru yang sama.
Dari
pengertian manajemen dan kelas diatas, beberapa para ahli berpendapat tentang
pengertian manajemen kelas yaitu:
1. Menurut
DR. Hadari Nawawi
Manajemen
Kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan
potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap
personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga
waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan
kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan
perkembangan murid.
2. Drs.
Syaiful Bahri Djamarah
Manajemen Kelas
adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin
untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.”
Jadi
dapat disimpulkan pengertian manajemen kelas adalah program yang dibuat oleh
guru untuk mendayagunakan secara maksimal potensi kelas yang terdiri
dari tiga unsur yaitu: guru, murid dan proses. Sehingga tujuan pembelajaran
bisa tercapai secara efektif dan efesien serta mengantisipasi masalah-masalah
yang kemungkinan terjadi.
Setelah
mengetahui pengertian prinsip dan manajemen kelas, maka dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan prinsip manajemen kelas adalah acuan yang
memiliki pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan
kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.
B. Permasalahan
dalam prinsip manajemen kelas
Ada
dua jenis masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat perorangan atau
individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah perorangan atau
individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat sukar dipisahkan
yang satu dari yang lain. Namun demikian, pembedaan antara kedua jenis masalah
itu akan bermanfaat, terutama apabila guru ingin mengenali dan menangani
permasalahan yang ada dalam kelas yang menjadi tanggungjawabnya.
Masalah
pengelolaan kelas tersebut, yaitu :
1. Masalah
Individual
Penggolongan
masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku
manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki
kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang
individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia
akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku,
yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut
balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan
makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian
orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a. Attention
getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) : Seorang siswa
yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan
sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah
laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian
yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok),
membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya,
tukang rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat
dijumpai pada anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan
orang lain.
b. Powerseeking
behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) :Tingkah
laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih
mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan
adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain
dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak
pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan
apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif
memperlihatkan ketidakpatuhan.
c. Revenge
seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) :Siswa
yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari
bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain.
Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap
sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering
dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini akan merasa sakit kalau
dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik (misalnya dalam
pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya lebih suka
bertindak secara aktif daripada pasif.Anak-anak penuntut balas yang aktif
sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
d. Helplessness (peragaan
ketidakmampuan) : Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada
dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya
(yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang
menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah
kegagalan yang terus menerus.Perasaan tanpa harapan dan tidak tertolong lagi
ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau memencilkan
diri.Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk pasif.
Keempat
masalah individual tersebut akan tampak dalam berbagai bentuk tindakan atau
perilaku menyimpang, yang tidak hanya akan merugikan dirinya sendiri tetapi
juga dapat merugikan orang lain atau kelompok. Ada empat teknik sederhana untuk
mengenali adanya masalah-masalah individu seperti diuraikan diatas pada diri
para siswa. Diantaranya yaitu :
a. Jika
guru merasa terganggu (atau bosan) dengan tingkah laku seorang siswa, hal itu
merupakan tanda bahwa siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari
perhatian.
b. Jika
guru merasa terancam (atau merasa dikalahkan), hal itu merupakan tanda bahwa
siswa yang bersangkutan mungkin mengalami masalah mencari kekuasaan.
c. Jika
guru merasa amat disakiti, hal itu merupakan tanda bahwa siswa yang
bersangkutan mungkin mengalami masalah menuntut balas.
d. bersangkutan
mungkin mengalami masalah ketidakmampuan. Ditekankan, guru hendaknya
benar-benar mampu mengenali dan memahami secara tepat arah tingkah laku
siswa-siswa yang dimaksud (apakah tingkah laku siswa itu mengarah ke mencari
perhatian, mencari kekuasaan, menuntut balas, atau memperlihatkan
ketidakcampuran) agar guru itu mampu menangani masalah siswa secara tepat pula.
2. Masalah
Kelompok
Ada
tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.
Kurangnya kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok ditandai
dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota
kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau
bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat
dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat
yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di
kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga
mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa
tidak saling bantu membantu.
b.
Kesulitan mengikuti peraturan
kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa
siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka
masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang mampuan mengikuti peraturan
kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu
padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu
kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya
masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan
lain-lain.
c.
Reaksi negatif terhadap sesama anggota
kelompoK
Reaksi negatif terhadap anggota kelompok
terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota
kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang
menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan
kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh
kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d.
Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah
laku yang menyimpang
Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah
laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan
mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma
sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan
memperolok-olokan, misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru.Jika
hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang
dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
e.
Kegiatan anggota atau kelompok yang
menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan
atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.
Masalah kelompok anak timbul dari
kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.Dalam hal ini
kelompok itu mereaksi secara berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak
berarti atau bahkan memanfaatkan hal-hal kecil untuk mengganggu kelancaran
kegiatan kelompok itu.Contoh yang sering terjadi ialah para siswa menolak untuk
melakukan karena mereka beranggapan guru tidak adil. Jika hal ini terjadi,
maka suasana diwarnai oleh ketidaktentuan dan kekhawatiran.
f.
Kurangnya semangat, tidak mau
bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Masalah kelompok yang paling rumit
ialah apabila kelompok itu melakukan protes dan tidak mau melakukan kegiatan,
baik hal itu dinyatakan secara terbuka maupun terselubung.Permintaan penjelasan
yang terus menerus tentang sesuatu tugas, kehilangan pensil, lupa mengerjakan
tugas rumah atau tugas itu tertinggal di rumah, tidak dapat mengerjakan tugas
karena gangguan keadaan tertentu, dan lain-lain merupakan contoh-contoh protes
atau keengganan bekerja.Pada umumnya protes dan keengganan seperti itu
disampaikan secara terselubung dan penyampaian secara terbuka biasanya jarang
terjadi.
g.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri
terhadap perubahan lingkungan.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri
terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak
wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan
kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan
jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain.Apabila hal itu terjadi
sebenarnya para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu
ketegangan tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai
ancaman terhadap keutuhan kelompok.Contoh yang paling sering terjadi ialah
tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal
biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.
Mengajar
sebagai proses pemberian atau penyampaian pengetahuan saja tidak cukup, tetapi
harus diiringi dengan mendidik. Artinya guru secara tidak langsung harus dapat
membimbing siswa untuk melakukan dan menyadari etika, budaya serta moral yang
berlaku di tempat siswa tinggal. Guru bukan sebagai pemberi informasi
sebanyak-banyaknya kepada para siswa, melainkan guru sebagai fasilitator, teman
dan motivator.
Berdasarkan
pengalaman guru di lapangan. Masalah-masalah yang timbul di dalam pelaksanaan
pengajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1.
Masalah pengarahan
Di waktu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi
proses belajar-mengajar, kebanyakan guru kurang memiliki keterampilan dalam:
a. Berorientasi
kepada tujuan pelajaran.
b. Mengkomunikasikan
tujuan pelajaran kepada siswa.
c. Memahami
cara merumuskan tujuan umum dan khusus.
d. Menyesuaikan
tujuan pelajaran dengan kemampuan dan kebutuhan siswa.
e. Merumuskan
tujuan instruksional jelas.
Keadaan
ini mengakibatkan secara jelas terhadap tujuan mempelajari materi tersebut,
mereka tidak mendapat kepuasan dalam menerima pelajaran, siswa menyadari bahwa
tujuan pelajaran yang diberikan guru tidak relevan dengan kebutuhannya tidak
bermakna bagi kehidupannya di kemudian hari.
2.
Masalah evaluasi dan penilaian
Guru dalam tugasnya untuk merencanakan,
melaksanakan evaluasi dan menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
a. Guru
dalam menyusun kriteria keberhasilan tidak jelas
b. Prosedur
evaluasi tidak jelas
c. Guru
tidak melaksanakan prinsip-prinsip evaluasi yang efisien dan efektif.
d. Kebanyakan
guru memiliki cara penilaian yang tidak seragam.
e. Guru
kurang menguasai teknik-teknik evaluasi.
f. Guru
tidak memanfaatkan analisa hasil evaluasi sebagai bahan umpan balik.
Dengan
evaluasi yang semacam itu siswa yang menerima evaluasi tidak puas. Mereka tidak
mengerti arti angka-angka yang diterimanya. Guru juga tidak mengetahui apakah
muridnya sudah mempelajari materi pelajaran yang diberikan atau belum. Guru
tidak mengerti bahwa pada siswa sudah ada perubahan tingkah laku, sebagai pengaruh
pengajaran yang diberikan atau tidak.
3. Masalah
isi dan urut-urutan pelajaran : Dalam membuat perencanaan pengajaran, yang
kemudian akan dilaksanakan dan dievaluasi, guru dalam menyusun isi dan urutan
bahan pelajaran menemukan masalah sebagai berikut:
a. Guru
kurang menguasai materi
b. Materi
yang disajikan tidak relevan dengan tujuan
c. Materi
yang diberikan sangat luas
d. Guru
kurang mampu dalam menyesuaikan penyajian bahan dengan waktu yang tersedia
e. Guru
kurang terampil dalam mengorganisasikan materi pelajaran.
f. Guru
kurang mampu mengembangkan materi pelajaran yang diberikannya.
g. Guru
kurang mempertimbangkan urutan tingkat kesukaran dari materi pelajaran yang
diberikan.
4. Masalah
metode dan sistem penyajian bahan pelajaran
Agar
guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu
menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih siswa penyajian
yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan, ataupun dapat
membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut. Namun dengan demikian dalam
pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah
sebagai berikut:
a. Guru
kurang menguasai beberapa siswa penyajian yang menarik dan efektif.
b. Pemilihan
metode kurang relevan dengan tujuan pelajaran dan materi pelajaran.
c. Kurang
terampil dalam menggunakan metode
d. Sangat
terikat pada satu metode saja
e. Guru
tidak memberikan umpan balik pada tugas yang dikerjakan siswa.
5. Masalah
hambatan-hambatan
Dalam
pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya
ialah:
a. Banyak
guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
b. Guru
kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
c. Guru
kurang mengerti tentang kemampuan dasar siswa yang kurang.
d. Kurangnya
buku-buku bacaan ilmiah
e. Keadaan
sarana yang kurang
f. Guru
kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
Dengan
menemukan hambatan-hambatan itu dalam pengajaran menjadi kurang lancar. Guru
mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar agar hasilnya
efektif dan efisien. Begitu juga siswa sendiri kurang bersemangat untuk
mendalami setiap bagian pengetahuan yang diperolehnya di bangku sekolah.
C. Kebijakan
Tentang Prinsip Manajemen Kelas
1.
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (SISDIKNAS) Pasal 51 ayat 1 menyatakan bahwa “ Pengelolaan
satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah
dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen
berbasis sekolah atau madrasah. “
2.
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005
PP
No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Pasal 49 ayat 1
mengemukakan bahwa “ Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan
dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.”
3.
Permendiknas No. 19 Tahun 2007
Permendiknas
No. 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan memuat secara
terperinci tentang :
a)
Perencanaan Program
b)
Pelaksanaan Rencana
c)
Pengawasan dan Evaluasi
d)
Kepemimpinan Sekolah atau Madrasah
e)
Sistem Informasi Manajemen
f)
Penilaian Khusus
DAFTAR
PUSTAKA
Asmadawati.
2014. Keterampilan Mengelola Kelas. Jurnal Logaritma. Vol. II
Rachman, Maman. 1998.
Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi.
Rofiq, M. Aunur .
2009. Pengelolaan Kelas. Malang : Departemen Pendidikan Nasional.
Materinya sangat membantu kaka
BalasHapusSangat bermanfaat kakak, semoga bisa kita terapkan dilapangan nantinya🙏
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusmaterinya bagus
BalasHapusMaterinya mantap kak
BalasHapusTerimakasih kak. Sangat membantu sekali.
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusSangat membantu 🙏
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat.. Terimakasih
BalasHapusSangat membantu saya dalam mencari referensi..👍
BalasHapusSangat bagus materi ya
BalasHapus